Skip to main content

Pernikahan Adat Minang Rini & Ridho di Gedung Aneka Bhakti

Gedung Aneka Bhakti Departemen Sosial venue yang terletak cukup strategis di bilangan Jakarta Timur menjadi pilihan acara resepsi pernikahan Rini dan Ridho.
Jam 15.00 WIB Rini dan Ridho memulai persiapan mereka, keduanya memilih untuk mengenakan riasan dan baju adat Minangkabau modifikasi. Dalam tradisi perkawinan Minangkabau, pengantin wanita disebut Anak Daro dan pengantin pria disebut dengan Marapulai. Pasangan ini terliat sangat antusias dalam prosesi awal yang mereka lakukan.
Rini sang anak daro bersiap mengenakan baju kuruang( atasan ) dan kodek ( bawahan ), atribut lainnya berupa perhiasan seperti kalung dan gelang. Namun ada satu perhiasan yang Rini gunakan yang sangat menunjukkan bahwa dia seorang pengantin Minang yaitu suntiang.

Sedangkan Ridho sang marapulai mengenakan pakaian seperti pakaian kebesaran adat yang dipakai pemimpin adat ditanah minang. Kelengkapan pakaiannya antara lain: deta/saluak (penutupkepala), bajugadangbasiba (baju), sarawa (celana), serong/sisampiang (kainsamping) tapi dia memilih tidak menggunakan keris dan tongkat seperti pada adat minang asli.
Sandra’s Project menyulap seisi ruangan dengan kemegahan pelaminan adat minangkabau, warna silver dan biru electric mendominasi pemandangan malam itu. Pelaminan dengan bentuk seperti rumah gadang lengkap dengan ornamennya menjadi salah satu hal yang menarik perhatian seluruh tamu undangan. Sangat mampu menunjukkan karakter dan ciri khas pengantin beserta keluarga.

Tepat jam 19.00 WIB, tiba waktunya untuk persiapan kirab pengantin. Sebelum disandingkan di pelaminan, keduanya tidak langsung dipertemukan tetapi dengan cara tersendiri sesuai dengan salah satu adat Jawa tertentu yaitu Rini didudukkan diatas tandu yang dibawa oleh empat orang pria untuk dipertemukan dengan Ridho, sedangkan Ridho dan barisan keluarga telah bersiap rapi di pintu masuk atau gazebo menunggu kedatangan Rini.

Setelah Rani disandingkan dengan Ridho digazebo,  sebelum kirab pengantin dilakukan keduanya disambut terlebih dulu dengan menggunakan silat pulut, tari piriang ( tari piring ) dengan diiringi music tabuih yang terdiri dari rebana dan gong.

Sebelum Tari Piring, acara dibuka dengan Tari Persembahan terlebih dulu atau disebut dengan sembah pengantin sebagai tanda hormat kepada pengantin.

Selanjutnya Rini dan Ridho disandingkan dipelaminan dengan didampingi orang tua untuk menyambut ucapan selamat dan doa restu para tamu undangan yang telah hadir. Dalam adat minangkabau biasanya disebut dengan Basanding dan perjamuan yaitu acara duduknya pengantin dipelaminan untuk disaksikan oleh tamu tamu  yang  hadir pada pesta perjamuan.

Meskipun lempar bunga atau bouguet bukan termasuk salah satu adat minang tapi Rani dan Ridho memilihnya untuk menambah meriah acara pesta pernikahannya. Disela-sela para tamu menikmati hidangan dan berbincang, prosesi lempar bunga atau bouquet dilakukan. Bingkisan dari pengantin menanti kepada siapa akan diberikan !!


Keduanya berpose beberapa kali dengan dibantu oleh team fotografer Sandra’s Project. Mengabadikan setiap senyum, ekspresi bahagia dan kelucuan yang mereka ciptakan. Dengan pakaian adat minang tersebut Rini dan Ridho terlihat sangat serasi, keduanya mempesona.

Selamat menempuh hidup baru Rini dan Ridho,,
Bahagiaselaludan happily ever after…

Terimakasih telah mempercayakan moment istimewa dalam hidup kalian kepada Sandra’s Project.
-

Adat Pernikahan: Minangkabau, Sumatera Barat
Lokasi: Gedung Aneka Bhakti, Departemen Sosial. Jl salemba Raya No. 28, Kenari, Senen, Jakarta Pusat.